Me and You Are

Me and You Are
My Life

Jumat, 22 April 2011

Berhentilah...

Sebuah arti pertemanan.
Ketika kau berteman dengan seseorang, mungkin kalian akan akrab dengan mudahnya.
Kemudian menjadi sahabat.
Di saat seperti ini begitu mudahnya bercanda ria, tertawa, dan membantu mereka.

Namun siapa sangka, di saat ada masalah teman yang begitu baik berbalik 180 derajat menjadi orang yang memusuhi kita.

Aku,
berkali-kali kecewa dengan persahabatan.
Termasuk pertemanan.
Bagiku, hal itu terlalu rapuh untuk disentuh.
Begitu mudah dibangun dan begitu mudah untuk dihancurkan.

Aku mendapatkannya, suasana berbeda dengan berbagai macam orang, berbagai macam umur yang bertaut jauh, dan berbagai macam dengan kepribadian yang berbeda lainnya.
Aku senang berada di sana, melebihi saat aku bersama teman2 sekolahku.

Aku....
hanya merindukan mereka.
Orang2 yang dulu pernah membuatku senang dan tertawa, sekarang menjadi hal-hal pahit yang harus aku alami.

Mereka menjadi keterbatasan ruang gerakku, karena (mungkin) sekelebat masalah pribadi yang tidak bisa mereka pisahkan dengan diriku.
Mereka jauh berbeda umur denganku.
Mereka 25 aku 17.Mereka 30 aku 17.

Tapi apa peduli mereka?
Yang mereka ingat hanya masalah di masa lampau, kesalahan di masa lampau, dan perseteruan di masa lampau.

Teman...
sungguh, aku ingin kita kembali seperti dulu.
Berhentilah untuk mengacuhkan aku, berhentilah untuk berpura-pura tidak melihatku.

Hatiku sakit mengingat semua ini.
Kebaikan di masa lampau tidak pernah mereka ingat.
Mereka hanya mengingat kebencian yang harus mereka lampiaskan padaku.

Aku tahu, mereka mungkin tertawa di belakangku.
Aku tahu, mereka tak pernah menganggapku.
Aku tahu, aku tak ada artinya bagi mereka.
Semua hal yang telah aku lakukan, tidak berarti apa-apa.

Aku mohon, berhentilah....

Sabtu, 02 April 2011

Perjalanan Pendidikan

Proses..

Kata itu akan selalu ada di setiap jalan kehidupan.
Apapun yang kita lakukan, pasti semuanya mengalami suatu proses.
Proses berpengaruh banyak pada 'menjadi seperti apa' orang itu kelak.
Proses juga mempengaruhi cara hidup dan banyak hall lainnya.

Saat ini, adalah hal yang paling terasa prosesnya dalam hidupku.
Dari satu aspek, yaitu sekolah.
Kelas 3 SMA saat ini benar-benar menguras banyak tenaga, pikiran, dan waktu.
Mungkin juga menghabiskan banyak uang :p

Selama 12 tahun aku sekolah, boleh di bilang baru SMA ini adalah waktu yang begitu membanggakan.
Meskipun hanya sekedar prestasi, tapi aku bersyukur boleh merasakannya di ujung tahun aku sekolah.
Mungkin akan terasa berbeda seperti orang pintar lainnya.
Aku hanya tidak terbiasa.
Kedengarannya mungkin sombong, tapi ini hanya ungkapan isi hati.

Aku butuh proses mencapai titik ini.
Tidak seperti temanku Visi yang dari SD udah keliatan kecerdasannya.
Sampe SMA pun selalu jadi juara di sekolah.
Gag cuma pelajaran aja, di bidang seni pun dia jugag jago.
Jarang banget ada orang yang bisa menguasai semua bidang.
Tapi dia tetep gag sombong.

Beda denganku.
Kalau  memgingat masa SD yang bagai neraka itu, aku sama sekali gag ada apa-apanya.
Di antara teman-teman keturunan Cina itu, aku bener-bener merasa asing di negeriku sendiri.
Mereka mendominasi dan menguasai segalanya.

Setiap pagi waktu pelajaran Matematika, aku selalu jadi murid pertama yang di panggil guruku untuk maju ke depan mengerjakan soal.
Bukaan.. Bukan karena aku pintat tapi karna kebalikannya GAG BISA!

Selama SD selalu seperti itu.
Tapi untungnya kelas 6 menjelang UNAS nasibku berubah menjadi lebih baik dan otakku bisa di ajak kerjasama.
Aku berhasil lulus dengan rata-rata 8 lebih.

SMP masuk di SMP favorit ke 2 di kota Malang.
Rasanya biasa aja, agak bangga sih, cuman ya gitu.
Posisinya agak tengah ke bawah gitu.
Selama SMP aku BIASA banget, landai-landai aja.
Bahkan tiap ulangan remidi dan itu terasa wajar-wajar saja.
Menjelang UNAS SMP nasib kembali lagi padaku dan aku lulus dengan rata-rata 8 lebih (lagi).

SMA, ayahku memilihkanku sekolah yang deket banget ma rumah.
Dengan berbagai iming-imingnya aku menurut.
Kata ayah, lebih baik aku ada di sekolah yang tidak terlalu berat saingannya.
Jadi aku bisa berusaha lebih baik.

Ternyata benar.
Walaupun di kelas 1 aku bener-bener hancur gara-gara kurikulum Cambridge IGCSE, tapi setelah aku kelas 2 dan masuk IPS, semuanya berubah.
Rasanya seperti mimpi ketika akhir semester 2 menjelang kenaikan ke kelas 3, batinku bener-bener hancur karena baruu aja putus.
Tapi hasil raportku di luar dugaan -Juara 1 pararel-
Seumur-umur gag pernah juara, saat itu tiba-tiba juara 1 pararel.
Aku seneng banget, dan semenjak itu aku lebih rajin belajar.
Keinginan jadi yang terbaik selalu ada di benakku.

Itulah bedanya, aku membutuhkan proses panjang dengan cara berjuang.
Jadi kadang mungkin aku kelihatan sombong , tapi jujur di dalam hati aku juga gag pengen seperti itu.

Dan sebentar lagi adalah saat terpenting dalam hidupku.
UNAS 2011 udah di depan mata.
Dan ini adalah kesempatan terakhirku untuk membuktikan kemampuanku.
Semoga Tuhan berkehendak dan memberkati aku.
Amin..