Tulisan ini menutup kisah tentang dia.
Menurut ingatanku, saja.
"Beri aku waktu untuk menjawab pertanyaanmu"
"Ok. Aku beri waktu kamu 1 minggu"
"Sebelum aku menjawabnya, boleh kita ketemu?"
"Ok. Dimana?"
Hari itu, Jumat, 23 September 2011
Aku memutuskan untuk pergi dengannya
Sebelum aku menyerahkan hatiku kepada seseorang, aku ingin tahu lebih dalam tentang dia
Hatiku galau dan bimbang saat itu
Aku tak tahu siapa dia, tapi aku sudah membuat patah hati orang lain yang dengan setia menungguku hanya untuk bertemu dia
Akhirnya, siang itu aku mengajaknya datang ke rumahku
Aku mengenalkannya pada ayahku
Aku tahu, ini terlalu cepat, kami belum mempunyai status tapi aku sudah mengenalkan dia pada ayahku
Awalnya, ketika dia datang ke rumahku,
Aku sempat ragu, berpikir bagaimana jika dia ternyata orang yang bukan "kejawen", bersopan santun layaknya orang jawa.
Tapi dia membelalakkan mataku ketika dia masuk ke rumahku dan memberi salam kepada ayahku.
Dia menjabat tangan ayahku dan mengucapkan namanya dengan tegas.
Kemudian dia pamit dengan sangat sopan, mencium tangan ayahku, dan kamipun pergi.
1 poin untuk dia.
Selama di perjalanan ketika berangkat, aku duduk di boncengannya.
Merasa sedikit takut dengan gaya menyetirnya yang cenderung ngebut.
Aku menunjukkan jalan padanya dan dia menyebutku seperti tukang parkir.
Kami bercanda dan tertawa sepanjang jalan.
Sesampainya di tempat parkir, ketika tukang parkir bicaranya agak nyolot, dia menjawabnya dengan santai, "Yoi" katanya.
Kemudian kami berjalan masuk mall dan membicarakan gaya pakaian anak Jakarta jika pergi ke mall dan topik ringan lainnya.
Aku suka gaya bicaranya, sikap santainya, cara berjalannya.
1 poin lagi, dia tak meninggalkan aku jauh di belakang ketika kami berjalan bersama.
Dia menungguku berjalan sampai di sampingnya ketika aku agak lambat berjalan.
Aku meminta agar kami langsung menuju food court.
Aku pikir, itu tempat yang cukup tepat dan nyaman untuk berbicara dan ngobrol.
Kami memesan makanan kami.
"Aku ingat ketika aku pergi ke stand kentang goreng dan melihatmu dari sana.
Aku melihatmu dari belakang dengan wajahmu separuh terlihat, aku suka itu.
Aku ingat ketika aku kembali dan duduk di depanmu, kamu memegang HP samsung mu dan menopang dagumu dengan HP yang ada di telinga kirimu.
Entah kenapa, itu yang aku ingat di pikiranku sampai saat ini, aku suka gayamu."
Hal pertama yang dia bicarakan tentang teman-temannya dan sekolahnya di Jakarta waktu dia SMA dulu.
Dengan santainya dia membicarakan kenakalannya waktu SMA.
Sampai akhirnya, aku tahu sedikit tentang keluarganya, cara pergaulannya di Jakarta, dan ujung-ujungnya kami bicara tentang hati.
Dengan ringannya dia bercerita tentang mantannya, hal apa yang dia lakukan ketika tak punya pacar, berapa kali dia pacaran, dan masih banyak lagi.
Aku ingat, dia melotot ketika tahu aku baru 1 kali pacaran
Yah, aku tahu itu memalukan, tapi itu menunjukkan bahwa aku tak main-main mencari pasangan.
Setelah membicarakan semua tentang dia dan sedikit kehidupannya ada kata-kata yang melekat di pikiranku,
"Apa yang membuat kamu suka sama aku?" tanyaku.
"Aku di Malang kepengen punya pacar anak Malang.
Aku pengen hidup bener di sini, ngga main-main lagi, serius ma kuliahku.
Kamu anaknya anteng, ngga neko-neko.
Kayaknya, kamu bisa deh ngrubah aku....."
"Jadi? Apa aku tetep harus njawab tepat 1 minggu?"
"Yah, terserah kamu deh.
This is me, so now it's up to you"
Aku tersenyum.
1 poin lagi, aku mulai menilai kamu mau serius berhubungan denganku.
Tapi ada yang mematahkan poin tersebut ketika kamu bilang,
"Yah aku sih gag tau perasaanmu, prasaan orang kan beda yah.
Tapi kalo kamu gag mau, kita bisa berteman kok"
Nah, ini pertanyaan besar buat aku waktu itu.
Aku berpikir, kenapa dengan mudahnya dia bilang 'berteman'?
Setahuku, jika kita menyukai seseorang pasti akan mempertahankan atau merebut hatinya kan?
Tidak semudah itu menyerah tanpa usaha.
Sorepun tiba, kami beranjak pulang.
Aku senang dia berjalan di sampingku.
Ketika sampai di tempat parkir, dia sempat jalan agak cepat dan aku tertinggal jauh di belakang.
Kataku setengah berlari, "Aku di tinggal...."
"Iyah, maap. Jalannya kan sempit, jadi gag bisa jalan sebelahan" katanya sambil berhenti dan menghadapku di belakang.
Dan aku suka itu.
Sesampainya di motornya, dia bercerita kalau motornya itu kado ulang tahunnya.
Jupiter merah-hitam dengan helm merahnya.
Kami pulang.
Di jalanan, aku sempat kagok karena tak tahu jalan.
Payah, orang Malang ngga tahu jalanan di Malang.
"Aku inget waktu kamu mencoba mengingat-ingat lagi rute jalan pulang.
Waktu aku bilang, 'nanti lewat tugu'.
Kamu balik nanya, 'hah? mana tugu?'
'yang tadi lewat, ya udah terus aja'
Waktu lewat depan tugu aku bilang, 'ini yang namanya tugu kota Malang'
'apaan tuh kecil banget?! ahhaha'
'iyalah kecil kalo dibandingin ma monas -.-'' . dasar...'
Lucu."
Sampai di rumah, dia hampir saja tak mau masuk ke dalam rumahku lagi.
Tapi aku memintanya untuk turun sebentar dan pamit pulang.
Ternyata, ayahku sudah ada di depan rumah.
Dia turun dari motor, berjalan ke arah ayahku, dan berkata, "Pulang dulu Om. Ocha nya sudah kembali dengan selamat"
Sontak, aku tertawa terpingkal-pingkal sambil bicara, "Eh, kok ada gitunya?!"
Dia hanya tertawa.
Kemudian dia berlalu dari pandangan mataku.
Beberapa menit kemudian, dia mengirimku SMS, "hey udah nyampe nih"
Aku senang dia SMS aku ketika sudah sampai rumahnya.
Aku sempat berpikir dia akan hilang setelah bertemu denganku, tapi aku lega ketika dia masih bisa tertawa bersamaku walau hanya lewat SMS saja.
Keesokan harinya, dia dengan semangatnya bercerita akan pergi ke pantai dengan teman-teman gerejanya.
Sepanjang perjalanannya, dia selalu SMS aku sampai sinyalnya hilang.
Ketika dia pulang dari pantai dan ada sinyal, dia langsung SMS aku.
Aku senang waktu itu, merasa semua akan berjalan baik-baik saja.
Sampai 3 hari selanjutnya, dia berubah.
Pembicaraan kami terasa garing.
Hari ke hari jumlah SMS nya berkurang, dia jadi jarang SMS aku.
Tidak ada ucapan selamat pagi di pagi hariku atau SMS jail lainnya.
Aku mulai takut kehilangan dia dan aku sadar, aku mulai jatuh cinta padanya.
Tapi keadaan tak bisa di paksa.
3 hari setelah itu, kami miskom, dia tak SMS aku, dan jarang membalas.
Sampai akhirnya dia SMS aku dengan panjang 6 SMS:
"Hmmh ocha ^_^
aku mw minta maaph yah klo aku punya salah...
Kmu tw alasanku jauhin kmu ^_^
aku sadar kmu gk akan bisa sehati ama aku aku orgnya gk bgtu perhatian cuek dan sibuk sendri dngn duniaku...
Hidupku penuh dgn tidak kebenaran ^_^
aku gk mw pacaran srius tpi cma bkn skt hati kmu ^_^ aku terlalu gk bisa menjaga hati org dngn dunia gameku ^_^ mungkin cara yg terbaik buat aku yah jauhin kmu perlahan...
Sory yah aku bru blg skrg aku butuh waktu buat ngasih tauin ini...
Aku suka kmu gayamu dan segala hal tentangmu tpi apakah kmu nanti nyaman dgn aku...
Aku bnr" gk bsa jwb itu ^_^ jdi sblm ada hati yg terluka lgi parah mending aku tutup pikiranku yg egois mencri pacar serius tpi aku sbuk sendri dngn duniaku...
Tentu kmu gk akan bisa tahan dgn aku yg seperti itu...
Hmmh soal guru ^_^ aku gk anti kok sama gru tenang ajh hehe ^_^"
Terjawab sudah semuanya.
Entah lega entah kecewa entah marah.
Tapi sungguh aku tak sedih, aku hanya menyesal karena harus kehilangan dia di saat dia mulai mengisi hatiku.
Dia beralasan tak akan bisa meninggalkan dunia game nya dan takut menyakiti hatiku karena kecuekkannya.
Dia bisa berkata sebanyak itu karena membaca blog ini.
Kadang aku merasa menyesal kenapa aku tulis semuanya disini, tentang prasangkak burukku akan niatnya yang ku takutkan tak serius.
Aku merasa bersalah menilainya seolah-olah akan membuatku sakit hati.
Tapi toh pada kenyataannya benar.
Kalau dia benar-benar serius, tentu dia akan mengorbankan sesuatu untuk bisa denganku.
Pada akhirnya aku tetap pada prinsipku.
Sampai di sini, feelingku sudah terjawab, bahwa dia tak serius ingin bersamaku.
Secepat itu, dalam waktu kurang dari 1 bulan, kami berkenalan, bercanda, menceritakan masa lalu, dia 'menembak' aku untuk jadi pacarnya, kami pergi bersama, dan akhirnya dia memutuskan untuk berhenti dan menjauhi aku.
Aku hanya terdiam, membutuhkan waktu 2 jam untuk menjawab semua itu.
Ketika aku menjawabnya dengan kata, "Ya, gak papa kok. pdhl aku terlanjur suka sama kamu John. Tapi nggag papa lah aku bisa hapus rasa ini :)"
Dan dengan enteng dan cepatnya dia menjawab, "Hahahha, ya udah. Lupain aja lah"
Tuhannn, segampang itu jawabnya.
"Ya ini lah aku kalo udah main game"
Wow, mengejutkan. Aku cuma bisa mengelus dada,
Di satu sisi aku merasa kecewa dan menyesal.
"Kenapa tak langsung ku trima saja dia waktu itu?
Mungkin saat ini aku jadi sudah punya pacar dan bisa benar-benar memiliki dan menyayangi dia."
Tapi di sisi lain aku bersyukur karena tidak jadi bersama orang yang tidak serius, dimana padahal aku ingin menjalin hubungan serius yang benar-benar saling mencintai.
"Mungkin, saat itu jika aku tak mendoakanmu dan membiarkan egoku bicara, mungkin sekarang aku tak sedamai ini" karena memikirkan mu yang ternyata tak seindah yang kubayangkan.
"Saat itu, aku pernah bilang bahwa aku tak mudah percaya dengan orang lain.
Dan kamu pun menyerah dengan berkata, 'Wah, kamu orang nya gitu. Ya mau gimana lagi?'
Skali lagi tak ada usaha darimu.
Tanpa kamu sadari, aku telah mempercayai kamu ketika aku mau keluar, berjalan berdua dengan kamu.
Tanpa kamu sadari, aku hampir mempercayakan hatiku untuk kamu miliki."
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sudah, cukup aku pikir.
Aku menutup kisah ini sampai di sini.
Benar-benar sampai di sini.
Sudah tidak ada lagi tulisan tentang dia dan perasaanku kepadanya.
Sudah aku putuskan, untuk menguburnya...