Me and You Are

Me and You Are
My Life

Sabtu, 22 Oktober 2011

My Whises Mirror


Ini adalah cermin permintaanku.
Bukan, bukan seperti di dongeng-dongeng...
Tapi aku punya kebiasaan untuk menuliskan keinginanku di sini....

Seperti di fotoku di atas.
Aku menuliskan keinginanku masuk universitas apa ketika aku lulus SMA.
Dan hal-hal kecil lainnya.

Tapi keajaiban terjadi.
Apa yang aku tulis di situ, hampir semuanya terwujud.
Tentunya dengan kekuatan doa juga.

Menurut ilmu psikologi, ketika kita menginginkan sesuatu, lebih baik jika kita tulis di tempat yang dengan mudah kita baca.
Karena hal itu akan menancap di pikiran kita dan memotivasi kita untuk mencapainya...
:)

I Love My LIVE!

Akhir-akhir ini, aku sangat menikmati hidupku.
Paling tidak dalam waktu seminggu ini, tak terpikir olehku untuk ingin pacaran.
Ya, inilah aku.
Kadang aku bisa sangat menginginkan sesuatu, namun keesokan harinya aku mulai bosan.

Aku mulai mencintai kehidupanku, terhitung sejak lulus SMA.
Aku merasa sangat bebas dan lepas.
Bukan karena waktu SMA aku terpenjara karena larangan dan aturan.
Tapi jiwaku yang memenjarakan aku.

Aku tak bisa lepas mengekspresikan diriku.
Aku terpenjara dalam perasaan minder, membatasi diri, dan kesombongan.
Waktu itu yang dapat aku sombongkan hanya otakku, soal fisik dan gaya, aku tertinggal jauh.
Terlebih tentang pergaulan dan persahabatan, aku tak bisa mendapatkan hal yang benar-benar hidup.

Setelah UNAS berakhir, aku mulai merasakan yang namanya perjuangan hidup dan masa depan.
Ya aku tahu, ini belum apa-apa dan bukan tujuan akhir.
Tapi aku berpikir ini adalah pintu menuju awal dunia yang sebenarnya,

Rasa syukur berlipat ganda ketika aku menyerahkan jalan hidupku padaNya.
SNMPTN pun berjalan lancar dan terpenuhi layaknya berkat di hari hujan.
Aku memasuki masa PKPT, KBM, kuliahku sampai saat ini.
Dan aku merasa luar biasa.
Aku mendapatkan diriku bisa berekspresi lebih banyak lagi daripada ketika aku masih SMA.
Aku lebih percaya diri dan memberanikan diri untuk mengenal lebih banyak orang.

Ketika aku merubah diriku secara fisik, aku merasa sangat percaya diri.
Aku berani tampil di depan dengan tersenyum dan anggun.
Dari sinilah aku menemukan dunia baru.

Aku mengenal banyak orang dan merasa bahwa dunia ini begitu sempit.
Beberapa lelaki datang mendekat dan pergi.
Bagaimanapun aku berhak memilih, bukan karena aku sombong.
Tapi aku belajar dari masa lalu.
"Ketika kau menyerahkan hatimu dengan mudahnya, saat itulah dengan mudahnya pula hatimu akan disakiti."

Aku banyak melepaskan impian dan keinginanku.
Hal yang paling aku impikan adalah mengikuti suatu komunitas dance hiphop.
Aku suka menari, nge-dance lebih tepatnya.
Impian ku bisa menari di atas stage dengan emosi dan energi yang luar biasa.
Merasa keren dan membuat orang lain terpesona.
Aku ingin melakukannya.
Tapi aku tak pernah bisa mewujudkannya.

Lihat!
Aku sendiri tak bisa mewujudkan keinginanku sendiri.
Aku membiarkannya menguap dan habis terkikis.
Aku hanya bisa melihat tarian-tarian hebat dari videoklip-videoklip menakjubkan dan menirunya.
Aku ingin mewujudkannya, tapi aku tak punya kesempatan.
Aku berhenti di tempat dan tak berusaha untuk mewujudkannya.

Aku suka tampil di depan.
Walaupun jantungku berdetak tak karuan karena nervous.
Aku suka menari di depan orang banyak.
Walaupun tubuhku mulai kaku tak selincah dulu.
Aku ingin membuat orang lain tahu bahwa aku bisa.

Aku mencintai hidupku,
ketika aku bertemu dengan banyak orang dan mendengar cerita mereka.
Aku belajar bersyukur walaupun mungkin aku mendengar cerita dari mereka orang-orang yang hidupnya lebih 'sempurna' dan 'bahagia' daripada hidupku.
Aku juga belajar bersyukur ketika aku mendengar cerita mereka yang lebih tegar dalam menjalani hidup.
Dan tentunya bersyukur dapat bertemu mereka dan semua yang boleh aku miliki...

Rabu, 19 Oktober 2011

PENUTUP

Tulisan ini menutup kisah tentang dia.
Menurut ingatanku, saja.

"Beri aku waktu untuk menjawab pertanyaanmu"
"Ok. Aku beri waktu kamu 1 minggu"
"Sebelum aku menjawabnya, boleh kita ketemu?"
"Ok. Dimana?"

Hari itu, Jumat, 23 September 2011
Aku memutuskan untuk pergi dengannya
Sebelum aku menyerahkan hatiku kepada seseorang, aku ingin tahu lebih dalam tentang dia

Hatiku galau dan bimbang saat itu
Aku tak tahu siapa dia, tapi aku sudah membuat patah hati orang lain yang dengan setia menungguku hanya untuk bertemu dia

Akhirnya, siang itu aku mengajaknya datang ke rumahku
Aku mengenalkannya pada ayahku
Aku tahu, ini terlalu cepat, kami belum mempunyai status tapi aku sudah mengenalkan dia pada ayahku

Awalnya, ketika dia datang ke rumahku,
Aku sempat ragu, berpikir bagaimana jika dia ternyata orang yang bukan "kejawen", bersopan santun layaknya orang jawa.
Tapi dia membelalakkan mataku ketika dia masuk ke rumahku dan memberi salam kepada ayahku.
Dia menjabat tangan ayahku dan mengucapkan namanya dengan tegas.
Kemudian dia pamit dengan sangat sopan, mencium tangan ayahku, dan kamipun pergi.
1 poin untuk dia.

Selama di perjalanan ketika berangkat, aku duduk di boncengannya.
Merasa sedikit takut dengan gaya menyetirnya yang cenderung ngebut.
Aku menunjukkan jalan padanya dan dia menyebutku seperti tukang parkir.
Kami bercanda dan tertawa sepanjang jalan.

Sesampainya di tempat parkir, ketika tukang parkir bicaranya agak nyolot, dia menjawabnya dengan santai, "Yoi" katanya.
Kemudian kami berjalan masuk mall dan membicarakan gaya pakaian anak Jakarta jika pergi ke mall dan topik ringan lainnya.
Aku suka gaya bicaranya, sikap santainya, cara berjalannya.
1 poin lagi, dia tak meninggalkan aku jauh di belakang ketika kami berjalan bersama.
Dia menungguku berjalan sampai di sampingnya ketika aku agak lambat berjalan.

Aku meminta agar kami langsung menuju food court.
Aku pikir, itu tempat yang cukup tepat dan nyaman untuk berbicara dan ngobrol.
Kami memesan makanan kami.
"Aku ingat ketika aku pergi ke stand kentang goreng dan melihatmu dari sana.
Aku melihatmu dari belakang dengan wajahmu separuh terlihat, aku suka itu.
Aku ingat ketika aku kembali dan duduk di depanmu, kamu memegang HP samsung mu dan menopang dagumu dengan HP yang ada di telinga kirimu.
Entah kenapa, itu yang aku ingat di pikiranku sampai saat ini, aku suka gayamu."

Hal pertama yang dia bicarakan tentang teman-temannya dan sekolahnya di Jakarta waktu dia SMA dulu.
Dengan santainya dia membicarakan kenakalannya waktu SMA.
Sampai akhirnya, aku tahu sedikit tentang keluarganya, cara pergaulannya di Jakarta, dan ujung-ujungnya kami bicara tentang hati.
Dengan ringannya dia bercerita tentang mantannya, hal apa yang dia lakukan ketika tak punya pacar, berapa kali dia pacaran, dan masih banyak lagi.
Aku ingat, dia melotot ketika tahu aku baru 1 kali pacaran
Yah, aku tahu itu memalukan, tapi itu menunjukkan bahwa aku tak main-main mencari pasangan.

Setelah membicarakan semua tentang dia dan sedikit kehidupannya ada kata-kata yang melekat di pikiranku,
"Apa yang membuat kamu suka sama aku?" tanyaku.
"Aku di Malang kepengen punya pacar anak Malang.
Aku pengen hidup bener di sini, ngga main-main lagi, serius ma kuliahku.
Kamu anaknya anteng, ngga neko-neko.
Kayaknya, kamu bisa deh ngrubah aku....."
"Jadi? Apa aku tetep harus njawab tepat 1 minggu?"
"Yah, terserah kamu deh.
This is me, so now it's up to you"
Aku tersenyum.
1 poin lagi, aku mulai menilai kamu mau serius berhubungan denganku.
Tapi ada yang mematahkan poin tersebut ketika kamu bilang,
"Yah aku sih gag tau perasaanmu, prasaan orang kan beda yah.
Tapi kalo kamu gag mau, kita bisa berteman kok"
Nah, ini pertanyaan besar buat aku waktu itu.
Aku berpikir, kenapa dengan mudahnya dia bilang 'berteman'?
Setahuku, jika kita menyukai seseorang pasti akan mempertahankan atau merebut hatinya kan?
Tidak semudah itu menyerah tanpa usaha.

Sorepun tiba, kami beranjak pulang.
Aku senang dia berjalan di sampingku.
Ketika sampai di tempat parkir, dia sempat jalan agak cepat dan aku tertinggal jauh di belakang.
Kataku setengah berlari, "Aku di tinggal...."
"Iyah, maap. Jalannya kan sempit, jadi gag bisa jalan sebelahan" katanya sambil berhenti dan menghadapku di belakang.
Dan aku suka itu.
Sesampainya di motornya, dia bercerita kalau motornya itu kado ulang tahunnya.
Jupiter merah-hitam dengan helm merahnya.

Kami pulang.
Di jalanan, aku sempat kagok karena tak tahu jalan.
Payah, orang Malang ngga tahu jalanan di Malang.
"Aku inget waktu kamu mencoba mengingat-ingat lagi rute jalan pulang.
Waktu aku bilang, 'nanti lewat tugu'.
Kamu balik nanya, 'hah? mana tugu?'
'yang tadi lewat, ya udah terus aja'
Waktu lewat depan tugu aku bilang, 'ini yang namanya tugu kota Malang'
'apaan tuh kecil banget?! ahhaha'
'iyalah kecil kalo dibandingin ma monas -.-'' . dasar...'
Lucu."

Sampai di rumah, dia hampir saja tak mau masuk ke dalam rumahku lagi.
Tapi aku memintanya untuk turun sebentar dan pamit pulang.
Ternyata, ayahku sudah ada di depan rumah.
Dia turun dari motor, berjalan ke arah ayahku, dan berkata, "Pulang dulu Om. Ocha nya sudah kembali dengan selamat"
Sontak, aku tertawa terpingkal-pingkal sambil bicara, "Eh, kok ada gitunya?!"
Dia hanya tertawa.
Kemudian dia berlalu dari pandangan mataku.

Beberapa menit kemudian, dia mengirimku SMS, "hey udah nyampe nih"
Aku senang dia SMS aku ketika sudah sampai rumahnya.
Aku sempat berpikir dia akan hilang setelah bertemu denganku, tapi aku lega ketika dia masih bisa tertawa bersamaku walau hanya lewat SMS saja.

Keesokan harinya, dia dengan semangatnya bercerita akan pergi ke pantai dengan teman-teman gerejanya.
Sepanjang perjalanannya, dia selalu SMS aku sampai sinyalnya hilang.
Ketika dia pulang dari pantai dan ada sinyal, dia langsung SMS aku.
Aku senang waktu itu, merasa semua akan berjalan baik-baik saja.

Sampai 3 hari selanjutnya, dia berubah.
Pembicaraan kami terasa garing.
Hari ke hari jumlah SMS nya berkurang, dia jadi jarang SMS aku.
Tidak ada ucapan selamat pagi di pagi hariku atau SMS jail lainnya.
Aku mulai takut kehilangan dia dan aku sadar, aku mulai jatuh cinta padanya.

Tapi keadaan tak bisa di paksa.
3 hari setelah itu, kami miskom, dia tak SMS aku, dan jarang membalas.
Sampai akhirnya dia SMS aku dengan panjang 6 SMS:
"Hmmh ocha ^_^
aku mw minta maaph yah klo aku punya salah...
Kmu tw alasanku jauhin kmu ^_^
aku sadar kmu gk akan bisa sehati ama aku aku orgnya gk bgtu perhatian cuek dan sibuk sendri dngn duniaku...
Hidupku penuh dgn tidak kebenaran ^_^
aku gk mw pacaran srius tpi cma bkn skt hati kmu ^_^ aku terlalu gk bisa menjaga hati org dngn dunia gameku ^_^ mungkin cara yg terbaik buat aku yah jauhin kmu perlahan...
Sory yah aku bru blg skrg aku butuh waktu buat ngasih tauin ini...
Aku suka kmu gayamu dan segala hal tentangmu tpi apakah kmu nanti nyaman dgn aku...
Aku bnr" gk bsa jwb itu ^_^ jdi sblm ada hati yg terluka lgi parah mending aku tutup pikiranku yg egois mencri pacar serius tpi aku sbuk sendri dngn duniaku...
Tentu kmu gk akan bisa tahan dgn aku yg seperti itu...
Hmmh soal guru ^_^ aku gk anti kok sama gru tenang ajh hehe ^_^"

Terjawab sudah semuanya.
Entah lega entah kecewa entah marah.
Tapi sungguh aku tak sedih, aku hanya menyesal karena harus kehilangan dia di saat dia mulai mengisi hatiku.
Dia beralasan tak akan bisa meninggalkan dunia game nya dan takut menyakiti hatiku karena kecuekkannya.
Dia bisa berkata sebanyak itu karena membaca blog ini.
Kadang aku merasa menyesal kenapa aku tulis semuanya disini, tentang prasangkak burukku akan niatnya yang ku takutkan tak serius.
Aku merasa bersalah menilainya seolah-olah akan membuatku sakit hati.
Tapi toh pada kenyataannya benar.
Kalau dia benar-benar serius, tentu dia akan mengorbankan sesuatu untuk bisa denganku.
Pada akhirnya aku tetap pada prinsipku.

Sampai di sini, feelingku sudah terjawab, bahwa dia tak serius ingin bersamaku.
Secepat itu, dalam waktu kurang dari 1 bulan, kami berkenalan, bercanda, menceritakan masa lalu, dia 'menembak' aku untuk jadi pacarnya, kami pergi bersama, dan akhirnya dia memutuskan untuk berhenti dan menjauhi aku.

Aku hanya terdiam, membutuhkan waktu 2 jam untuk menjawab semua itu.
Ketika aku menjawabnya dengan kata, "Ya, gak papa kok. pdhl aku terlanjur suka sama kamu John. Tapi nggag papa lah aku bisa hapus rasa ini :)"
Dan dengan enteng dan cepatnya dia menjawab, "Hahahha, ya udah. Lupain aja lah"
Tuhannn, segampang itu jawabnya.
"Ya ini lah aku kalo udah main game"
Wow, mengejutkan. Aku cuma bisa mengelus dada,

Di satu sisi aku merasa kecewa dan menyesal.
"Kenapa tak langsung ku trima saja dia waktu itu?
Mungkin saat ini aku jadi sudah punya pacar dan bisa benar-benar memiliki dan menyayangi dia."
Tapi di sisi lain aku bersyukur karena tidak jadi bersama orang yang tidak serius, dimana padahal aku ingin menjalin hubungan serius yang benar-benar saling mencintai.
"Mungkin, saat itu jika aku tak mendoakanmu dan membiarkan egoku bicara, mungkin sekarang aku tak sedamai ini" karena memikirkan mu yang ternyata tak seindah yang kubayangkan.

"Saat itu, aku pernah bilang bahwa aku tak mudah percaya dengan orang lain.
Dan kamu pun menyerah dengan berkata, 'Wah, kamu orang nya gitu. Ya mau gimana lagi?'
Skali lagi tak ada usaha darimu.
Tanpa kamu sadari, aku telah mempercayai kamu ketika aku mau keluar, berjalan berdua dengan kamu.
Tanpa kamu sadari, aku hampir mempercayakan hatiku untuk kamu miliki."
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sudah, cukup aku pikir.
Aku menutup kisah ini sampai di sini.
Benar-benar sampai di sini.
Sudah tidak ada lagi tulisan tentang dia dan perasaanku kepadanya.
Sudah aku putuskan, untuk menguburnya...

Selasa, 18 Oktober 2011

1 Bulan Kemudian

Kata orang mati 1 tumbuh 1000
Banyak yang datang dan pergi
Tapi tak ada yang singgah di hati


1 bulan yang lalu
Sehari itu, cuma sebentar, tapi melekat erat di ingatanku
Kamu...
Semua tingkah lakumu, kata-katamu, gayamu
Terekam jelas di ingatanku
Dan aku hanya bisa tertawa ketika mengingatmu

Rupanya aku memang menyukai tipe orang yang humoris
Yang bisa membuatku tertawa dan tidak terlalu mendewasai aku

Tapi, setelah hari itu, 1 bulan yang lalu
Sekarang seperti tak pernah ada hari 1 bulan yang lalu itu
Kembali lagi ke nol

Entahlah,
Setelah itu aku tak pernah bertemu dengannya
Kadang, sebelum dia bilang apa yang sedang terjadi sebenarnya, aku berhalusinasi melihatnya ada di depanku
Tapi, kemarin aku bertemu, melihatnya lebih tepatnya, dengan dia
Berbeda.
Kami sudak tak saling kenal

Kalau tak bertemu, aku ingin melihatnya
Kalau melihatnya, aku ingin menutup mata
Aku ingin menutup mataku ketika dia ada dihadapanku
Kenapa?

Ini aneh.
Kemarin, aku begitu marah dan tak ingin melihatnya ketika dia ada di depanku
Ada perasaan kecewa dan sebagainya di dalam hatiku
Tapi ketika aku duduk di kursi ini, melihat fb mu, mengapa aku mencoba menyapamu?
Seharusnya aku diam
Seharusnya aku mengikuti kemauanmu, "menjauhi ku perlahan"

Sudahlah,
aku menutup kisah tentang dia
Cukup sampai di sini :)

Senin, 03 Oktober 2011

1 Bait

Seharian di kampus aku hampir berhalusinasi liat dia...
Aku cuma kangen...
Tapi maaf kalau semua prasangkaku salah tentang dia...
Aku tahu ini cuma sementara dan aku bukan siapa-siapa...

Aku sepakat dengan diriku sendiri untuk menjalani hidupku sendiri sama seperti hari-hari yang lalu.
Dan mungkin, kami akan menjadi teman.
Entah teman baik atau tidak, :)

Apa yang udah pergi nggag bisa kembali lagi kan?

Minggu, 02 Oktober 2011

"Kamu tahu? Aku terlanjur jatuh hati..."

"Kamu tahu?
Aku terlanjur suka sama kamu...."

Setelah setahun lebih aku mati rasa.
Hening, sepi, kering, dan gelap.
Dia datang tiba-tiba dan mengejutkan.

Awalnya aku ragu, bagaimana mungkin aku memutuskan sesuatu tanpa tahu apa-apa tentang dia.
Aku kalut sampai akhirnya kami memutuskan untuk bertemu dan pergi bersama.

Hei...
Aku jadi suka dia.
He is so good looking, charming....
Saat  itu juga aku berpikir untuk mau memulai cinta yang baru bersama dia.

Semua berjalan seperti biasa.
Sampai 2 hari setelah itu, sesuatu berbeda, sampai akhirnya hari bertambah hari ia menjauh.
Tiba-tiba saja cuek, berbeda dengan biasanya.
Sampai hari ini pun kami berhenti berkomunikasi.

Tuhan...
Baru saja aku merasakan kembali rasanya jatuh cinta.
Baru saja aku ingin memulai cinta yang baru.
Namun dengan mudahnya aku di buang, tidak di anggap.
Lantas apa artinya yang pernah dia ucapkan kepadaku?
Apa itu cuma "sementara" karna saat itu kami dekat?

Ya, aku terlanjur menaruh hati padanya.
Tapi karna semuanya sudah berubah, aku masih bisa membunuh rasa ini.
Aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini, jadi tenang saja, aku bisa melewati ini.

Aku kecewa.
Aku sedih.
Tapi aku juga merindukan waktu yang pernah ada saat ada dia.
Namun biarlah semua hilang bila memang harus begitu.
Mungkin memang benar katanya, "Mungkin kita bisa jadi teman dekat kalo kamu gag suka sama aku"
Dan ternyata benar perasaanku, dia nggag serius dengan kata-katanya.
Aku rasa, ini juga kehendak Tuhan.
Jika memang bukan dia yang direncanakan buat aku, mungkin aku masih harus 'sendiri' lebih lama lagi.

Semoga, rasa ini juga akan hilang seiring berjalannya waktu.
Yang perlu aku lakukan hanyalah tersenyum ketika bertemu dia dan berhenti mengkhayal semuanya akan kembali.
"Apa yang sudah kita lepaskan, belum tentu dapat kita dapatkan kembali"

Lupakan :)