Apa yang sudah kita lepaskan belum tentu bisa kita dapatkan kembali.
Karna suatu alasan lain, aku memilih berhenti memberi harapan pada orang lain.
Aku memilih menjauhkan dia dari hidupku, bukan semata karena keegoisanku, namun juga untuk pertemanan kita.
Aku begitu merasa bersalah setelah melakukannya, ia begitu nampak tersakiti.
Dia menuliskan perasaannya dan memberikannya padaku, bahkan temanku pun merasa terharu membacanya.
Namun, entah, aku sama sekali tak merasakan apapun, aku hanya semakin merasa bersalah.
Satu-satunya pertanyaan terbesarku adalah: "Apakah akan ada lagi orang yang mencintai aku seperti dia?"
Aku ragu menjawabnya.
Namun yang namanya perasaan tak akan pernah bisa di paksa.
Kalau cinta tak ada, kenapa harus memaksa memiliki?
Di lain sisi, aku mulai menyukai seseorang.
Tapi rasa ragu ku lebih besar akan perasaanku.
Maka dari itu aku masih bisa menahannya sebelum jauh jatuh ke dalam.
Aku tak mau lagi dan lagi merasakan sakitnya, sudah cukup sekali saja.
Begitu banyak pertanyaan di benakku.
Sampai sehari kemarin hariku di buatnya gelap.
Galau dan bimbang sampai hariku berjalan sesat.
Rasa apa ini?
Benar-benar menyebalkan.
Jika Tuhan menghendaki, semua pasti terjadi.
Aku berusaha untuk berpasrah diri "Jadilah padaku seperi kehendakMu".
Namun terkadang aku masih mendikte Tuhan atas kemauanku.
Tidak seharusnya aku terlalu memikirkan hal ini.
Rasa takut dan raguku masih sanggup membendung rasa suka ku, sebelum aku tahu dia benar-benar serius ingin bersamaku.
Aku melepaskan orang yang benar-benar menyukaiku.
Aku melukai perasaannya.
Tapi aku (waktu itu) lebih memilih seorang yang lain, yang 'baru', dan belum aku tahu apa-apa.
Ini kah ego ku?
Namun jawaban terakhir, rupanya semua sia-sia.
New L*ve?
Sepertinya masih jauh, mungkin aku masih perlu menunggu lebih lama lagi....
Me and You Are
My Life
Selasa, 27 September 2011
Jumat, 16 September 2011
Aku Hanya Takut Jatuh Cinta
Setelah setahun lebih berusaha menyembuhkan diri dari sakitnya hati, proses untuk membuat hatiku menjadi utuh pun tak berjalan dengan semudah itu.
Siapa sangka aku menjadi lebih rapuh dan takut menengadahkan kepalaku untuk menatap dunia?
Perasaan tersakiti yang dulu selalu membayangiku, menutup naluri, dan membungkam perasaanku.
Aku takut suatu kali aku akan merasakan rasa sakit yang sama.
Aku hanya takut.....
Jatuh Cinta
Tidak seperti orang lain, aku menemukan cinta itu dengan waktu yang lama.
Entah kapan berakhir penantian ini, tapi aku berusaha menikmati apa yang aku miliki.
Ketika kita bisa mencintai diri sendiri, pasti akan ada orang lain yang bisa mencintai diri kita.
Aku hanya berharap, kelak aku akan bertemu dengan seseorang yang lebih dan lebih dari yang pernah aku miliki dulu.
Siapa yang mau jatuh ke dalam lubang yang sama?
Akupun juga tak ingin mempunyai cerita yang sama pahitnya dengan masa lalu.
Aku hanya ingin bahagia dan ingin segera bertemu dengan seseorang yang Tuhan tlah persiapkan untukku.
Tapi, sungguh, aku tak mudah jatuh cinta.
Sampai saat ini, belum ada yang bisa menyentuh hatiku.
Aku belum jatuh cinta lagi.
Jika aku mulai merasa jatuh cinta, mungkin aku akan takut memulainya >,<
Siapa sangka aku menjadi lebih rapuh dan takut menengadahkan kepalaku untuk menatap dunia?
Perasaan tersakiti yang dulu selalu membayangiku, menutup naluri, dan membungkam perasaanku.
Aku takut suatu kali aku akan merasakan rasa sakit yang sama.
Aku hanya takut.....
Jatuh Cinta
Tidak seperti orang lain, aku menemukan cinta itu dengan waktu yang lama.
Entah kapan berakhir penantian ini, tapi aku berusaha menikmati apa yang aku miliki.
Ketika kita bisa mencintai diri sendiri, pasti akan ada orang lain yang bisa mencintai diri kita.
Aku hanya berharap, kelak aku akan bertemu dengan seseorang yang lebih dan lebih dari yang pernah aku miliki dulu.
Siapa yang mau jatuh ke dalam lubang yang sama?
Akupun juga tak ingin mempunyai cerita yang sama pahitnya dengan masa lalu.
Aku hanya ingin bahagia dan ingin segera bertemu dengan seseorang yang Tuhan tlah persiapkan untukku.
Tapi, sungguh, aku tak mudah jatuh cinta.
Sampai saat ini, belum ada yang bisa menyentuh hatiku.
Aku belum jatuh cinta lagi.
Jika aku mulai merasa jatuh cinta, mungkin aku akan takut memulainya >,<
Jumat, 09 September 2011
Belum Pernah Ada yang Seperti Ini
Setelah 1 tahun lebih menjomblo, belum ada seorangpun yang bisa membuatku jatuh cinta lagi.
Walaupun kenalan sana sini, smsan sama siapapun, tapi belum ada yang berhenti menetap di hati.
Ada, seseorang yang sudah 1 tahun lebih PDKT ke aku dan sampai sekarang juga masih berjuang mendapatkan aku.
Tapi sayangnya, aku sama sekali tidak tertarik padanya.
Sebenarnya, belum pernah ada orang seperti dia ada di hidupku.
Belum pernah aku temui orang yang begitu suka sama aku seperti dia.
Yang rela berkorban hanya untuk sekedar menemui aku.
Sudah lama kami hanya ber-sms.
Kemudian kami bertemu, dia datang ke rumahku hari Natal tahun lalu.
Aku pikir setelah bertemu kami tidak akan berlanjut smsan atau apapun.
Namun ternyata dia mulai suka dan selalu memberi perhatian padaku.
Lingkungan kami cukup dekat, maksudku gereja kami masih 1 adat.
Teman-teman kami juga cukup berhubungan.
Sampai akhirnya dia selalu berusaha bertemu denganku.
Beberapa kali dia bertandang ke rumahku, padahal jarak yang dia tempuh untuk sampai di rumahku 1 jam.
Di lain waktu aku sempat memberanikan diri untuk pergi jalan-jalan dengan dia.
Aku hanya mencoba membuka hati untuk yang lain, mencoba mengenal cowok lain.
Sampai saat ini masih 2x aku pergi bersamanya.
Yang terakhir kali kami pergi nonton dan itupun pertemuan kami yang paling lama.
Tapi entah kenapa, banyak hal yang membuatku sama sekali tidak nyaman.
Dari cara dia sms aku, aku kira dia terlalu berlebihan dari porsi sebagai teman.
Dia selalu bertanya aku dimana, sama siapa, dan hal-hal membosankan lainnya.
Dia terlalu mendewasai aku. Dia selalu bertingkah "aku tahu lebih dulu dari kamu" karena dia lebih tua 4 tahun dari aku.
Kadang dia juga memberi tahu ku banyak hal yang sebenarnya aku gag mau tahu.
Secara fisik, dia bukan tipeku banget.
Dia tidak bisa menempatkan aku layaknya sebagai temannya.
Dia terlalu sensitif dan berlebihan alias lebay.
Aku risih ketika harus mendengar ocehannya yang lebih banyak dari aku.
Membalas smsnya yang seperti sesi wawancara.
Dengan kata lain, aku bosan berhadapan dengannya.
Namun di lain sisi, saat kami sedang bertemu dan jalan bareng.
Ada hal yang cukup masuk kriteriaku, cuma 1 yaitu sifatnya yang sangat menjaga orang yang disayanginya.
Pernah waktu kami terakhir kali nonton, aku sempat mau di serempet truk.
Tapi dia memegang pundakku dari belakang dan meminggirkanku supaya aku aman.
Sempat salut juga, tapi belum mengalahkan point negatif yang dia miliki.
1 lagi.
Sebenarnya yang aku maksud dengan "belum pernah ada yang seperti ini" adalah....
Dia suka aku dan berkorban sebisa dia.
Belum pernah ada cowok seperti dia.
Sampai sekarang pun dia masih mengejar aku.
Walaupun aku sudah sering menolaknya secara halus, tapi dia masih bertekad.
Kadang aku takut terlalu jahat padanya, aku takut membuat dia jatuh lebih dalam.
Tapi dia keras kepala dan telalu rapuh untuk di tolak.
Seandainya dia benar-benar tipeku....... mungkin dia yang aku cari.
Walaupun kenalan sana sini, smsan sama siapapun, tapi belum ada yang berhenti menetap di hati.
Ada, seseorang yang sudah 1 tahun lebih PDKT ke aku dan sampai sekarang juga masih berjuang mendapatkan aku.
Tapi sayangnya, aku sama sekali tidak tertarik padanya.
Sebenarnya, belum pernah ada orang seperti dia ada di hidupku.
Belum pernah aku temui orang yang begitu suka sama aku seperti dia.
Yang rela berkorban hanya untuk sekedar menemui aku.
Sudah lama kami hanya ber-sms.
Kemudian kami bertemu, dia datang ke rumahku hari Natal tahun lalu.
Aku pikir setelah bertemu kami tidak akan berlanjut smsan atau apapun.
Namun ternyata dia mulai suka dan selalu memberi perhatian padaku.
Lingkungan kami cukup dekat, maksudku gereja kami masih 1 adat.
Teman-teman kami juga cukup berhubungan.
Sampai akhirnya dia selalu berusaha bertemu denganku.
Beberapa kali dia bertandang ke rumahku, padahal jarak yang dia tempuh untuk sampai di rumahku 1 jam.
Di lain waktu aku sempat memberanikan diri untuk pergi jalan-jalan dengan dia.
Aku hanya mencoba membuka hati untuk yang lain, mencoba mengenal cowok lain.
Sampai saat ini masih 2x aku pergi bersamanya.
Yang terakhir kali kami pergi nonton dan itupun pertemuan kami yang paling lama.
Tapi entah kenapa, banyak hal yang membuatku sama sekali tidak nyaman.
Dari cara dia sms aku, aku kira dia terlalu berlebihan dari porsi sebagai teman.
Dia selalu bertanya aku dimana, sama siapa, dan hal-hal membosankan lainnya.
Dia terlalu mendewasai aku. Dia selalu bertingkah "aku tahu lebih dulu dari kamu" karena dia lebih tua 4 tahun dari aku.
Kadang dia juga memberi tahu ku banyak hal yang sebenarnya aku gag mau tahu.
Secara fisik, dia bukan tipeku banget.
Dia tidak bisa menempatkan aku layaknya sebagai temannya.
Dia terlalu sensitif dan berlebihan alias lebay.
Aku risih ketika harus mendengar ocehannya yang lebih banyak dari aku.
Membalas smsnya yang seperti sesi wawancara.
Dengan kata lain, aku bosan berhadapan dengannya.
Namun di lain sisi, saat kami sedang bertemu dan jalan bareng.
Ada hal yang cukup masuk kriteriaku, cuma 1 yaitu sifatnya yang sangat menjaga orang yang disayanginya.
Pernah waktu kami terakhir kali nonton, aku sempat mau di serempet truk.
Tapi dia memegang pundakku dari belakang dan meminggirkanku supaya aku aman.
Sempat salut juga, tapi belum mengalahkan point negatif yang dia miliki.
1 lagi.
Sebenarnya yang aku maksud dengan "belum pernah ada yang seperti ini" adalah....
Dia suka aku dan berkorban sebisa dia.
Belum pernah ada cowok seperti dia.
Sampai sekarang pun dia masih mengejar aku.
Walaupun aku sudah sering menolaknya secara halus, tapi dia masih bertekad.
Kadang aku takut terlalu jahat padanya, aku takut membuat dia jatuh lebih dalam.
Tapi dia keras kepala dan telalu rapuh untuk di tolak.
Seandainya dia benar-benar tipeku....... mungkin dia yang aku cari.
Betapa Kita Tidak Bersyukur
Punya fisik yang indah, itu dambaan semua orang, terutama cewek.
Seminggu yang lalu, aku melihat diriku dari luar, membandingkan dengan saudaraku sendiri.
Tapi kenapa kami begitu berbeda?
Kami dilahirkan dari rahim yang sama, namun setelah besar terlihat perbedaan dari fisik kami.
Bukan, bukan aku cacat, tapi aku tidak bersyukur.
Kakak perempuanku mempunyai segalanya.
Maksudku, tidak seperti aku yang mungkin masih lebih bagus miliknya.
Begini, contohnya saja secara fisik.
Wajahnya cantik, lebih cantik dari aku menurutku.
Hidungnya sedikit mancung di bandingkan punyaku yang pesek ini.
Matanya tidak sesipit mataku.
Bibirnya apik, tidak tebal seperti bibirku.
Giginya tersusunn rapi walaupun waktu kecil giginya gigis semua, tidak seperti punyaku yang ukuran besar-besar, tidak aturan, dan mulai maju melebihi barisnya.
Badannya berisi, tidak kurus seperti aku.
Dadanya juga, tidak seperti aku yang entah karena sangking kurusnya aku jadi rata begini.
Kulitnya lebih putih dari aku dan mungkin bulu di kakinya tidak sebanyak aku.
Dari segala sudut dan ekspresi, kalo di foto juga bagusan dia.
Huufff, aku benar-benar bisa mati sangking irinya.
Bagaimana bisa kami tumbuh bersama dan ternyata dia lebih memiliki segalanya?
Terkadang aku melihat dia sebagai seseorang yang sempurna.
Hidupnya cukup sempurna karena pribadi dan takdirnya yang mungkin memang tercipta seperti itu.
Setelah 5 tahun kuliah, besok 18 September 2011 dia bakal di wisuda dengan 2 gelar.
Dia sudah punya pasangan yang menurutku sudah sempurna untuk dijadikan pasangan hidup.
Tinggal mencari kerja saja dia untuk melengkapi kehidupannya.
Mungkin setelah bekerja beberapa tahun, dia siap di pinang dan mempunyai keluarganya sendiri.
Anak sulung memang hebat!
Dia mengecap segalanya mendahului kami para bungsu.
Dan kami para bungsu, hanya berdecak kagum dan menjadikan mereka inspirasi dan motivasi untuk menjadi yang lebih baik dari dia, kelak.
Amiin....
Seminggu yang lalu, aku melihat diriku dari luar, membandingkan dengan saudaraku sendiri.
Tapi kenapa kami begitu berbeda?
Kami dilahirkan dari rahim yang sama, namun setelah besar terlihat perbedaan dari fisik kami.
Bukan, bukan aku cacat, tapi aku tidak bersyukur.
Kakak perempuanku mempunyai segalanya.
Maksudku, tidak seperti aku yang mungkin masih lebih bagus miliknya.
Begini, contohnya saja secara fisik.
Wajahnya cantik, lebih cantik dari aku menurutku.
Hidungnya sedikit mancung di bandingkan punyaku yang pesek ini.
Matanya tidak sesipit mataku.
Bibirnya apik, tidak tebal seperti bibirku.
Giginya tersusunn rapi walaupun waktu kecil giginya gigis semua, tidak seperti punyaku yang ukuran besar-besar, tidak aturan, dan mulai maju melebihi barisnya.
Badannya berisi, tidak kurus seperti aku.
Dadanya juga, tidak seperti aku yang entah karena sangking kurusnya aku jadi rata begini.
Kulitnya lebih putih dari aku dan mungkin bulu di kakinya tidak sebanyak aku.
Dari segala sudut dan ekspresi, kalo di foto juga bagusan dia.
Huufff, aku benar-benar bisa mati sangking irinya.
Bagaimana bisa kami tumbuh bersama dan ternyata dia lebih memiliki segalanya?
Terkadang aku melihat dia sebagai seseorang yang sempurna.
Hidupnya cukup sempurna karena pribadi dan takdirnya yang mungkin memang tercipta seperti itu.
Setelah 5 tahun kuliah, besok 18 September 2011 dia bakal di wisuda dengan 2 gelar.
Dia sudah punya pasangan yang menurutku sudah sempurna untuk dijadikan pasangan hidup.
Tinggal mencari kerja saja dia untuk melengkapi kehidupannya.
Mungkin setelah bekerja beberapa tahun, dia siap di pinang dan mempunyai keluarganya sendiri.
Anak sulung memang hebat!
Dia mengecap segalanya mendahului kami para bungsu.
Dan kami para bungsu, hanya berdecak kagum dan menjadikan mereka inspirasi dan motivasi untuk menjadi yang lebih baik dari dia, kelak.
Amiin....
Langganan:
Postingan (Atom)