Me and You Are

Me and You Are
My Life

Selasa, 19 Februari 2013

Seperti Kabut Tak Tertembus

Pernah mendengar sebutan "Jodoh di Tangan Tuhan" ?

Itu begitu klasik,
dimana setiap orang yang dalam masa penantian 'dikuatkan' oleh ungkapan itu.
Betapa tidak?
Mereka benar-benar menunggu kapan datangnya sang jodoh,
lalu kemudian di tengah keletihannya seorang yang lain berusaha membesarkan hatinya.
Katanya, "Tuhan sedang mempersiapkan yang terbaik untukmu" atau "Mungkin belum waktunya".

Aku membayangkannya,
seperti kronologis datangnya kabut tak tertembus.
Kabut yang tipis bagai kepercayaan kita akan harapan.
Dan tak tertembus bagaikan harapan yang tak kunjung datang dan tak terlihat.

______________________________________________________________________________

Ia datang entah darimana, entah mengapa, entah bagaiamana
dan...
Entah siapa...

Kami mendoakannya berhari-hari,
jauh sebelum kami bertemu dengannya.
Bahwa kami tidak mengenalnya, jauh dari jangkauan indra kami.
Kami tak tahu siapa dan dimana, tapi kami tahu ia ada.

Ia ada bukan karena tanpa alasan.
Setahu kami DIA mengadakan bagi setiap orang.
Dan setahu kami, apa yang diadakannya itu begitu indah didengar.
Janji indah ada dalam setiap penguatan kami.
Seperti sesuatu hal yang tak akan tak pernah ada.
Seperti suatu hal yang pasti namun berkabut, buram.

Namun, kami tahu, saat ini yang kami perlukan adalah tetap percaya.
Percaya bahwa DIA baik dan mempersiapkan semuanya, percaya bahwa ia ada.

Kami membayangkannya demikian,
suatu hari tanpa kami ketahui kapan,
kami menyusuri hutan di bawah rerimbunan pohon.
Hutan yang lembab dan rimbun, membuat semuanya nampak gelap dan kabur.
Kami bertemu seseorang di sana, ia mengatakan bahwa kami akan bertemu dengan seseorang yang akan menghantarkan kami pada tempat yang indah.
Kamipun dengan setia dan sabar menyusuri berkilo-kilo jauhnya jalanan hutan.
Kami bertemu beberapa orang selama perjalanan, namun kami merasa itu bukan orang yang dimaksudkan, orang yang mengantarkan kami ke tempat yang indah.

Entah bagaimana,
kami melihat sebuah tempat yang tertembus berkas cahaya matahari.
Itu nampak indah, dan kami menghampirinya.
Di sana, kami bertemu dengan seseorang yang terlihat bijak dan menghalau kami dengan lembut.
Entah bagaimana pula, mereka seperti mengenal kami, tanpa pertemuan yang panjang.
Dan, merekalah yang membawa kami ke tempat yang indah, seperti yang dijanjikan seseorang di awal perjalanan kami....

Selasa, 12 Juni 2012

Menjadi Dewasa dan Lupa

Ketika kita lahir di dunia ini, kita bukan apa-apa.
Hanya bisa menangis, berteriak, dan menangis lagi.
Bapak ibumulah yang merawatmu, menyuapi makananmu, memberimu air susu agar kamu cepat besar.

Dalam buaian ibu, ibu selalu membisikkan, "Cepat besar anakku, besok besar jadi dokter"
Ia tersenyum hangat, melontarkan kata-kata yang kemudian menjadi doa.
Seakan-akan kita dapat mendengar dan mengerti kata-katanya.
Kita masih bodoh kala itu, berbicara saja tidak bisa.

Dengan tangan lembut dan kasih sayangnya, mulailah kita dapat berjalan.
Berjalan, bicara, menggenggam tangannya dengan jari-jari kecil kita.
Tapi kita tak pernah berhenti merepotkannya.
Kita belum bisa makan sendiri, mandi sendiri, bahkan untuk memakai pakaianpun belum bisa.

Tapi mereka selalu ada,
ayah mengajarkanmu kuat ketika kamu terjatuh.
"Jangan cengeng!" begitu katanya.
Sedangkan ibu yang membasuh air matamu dengan tangannya.

Ayah yang mengajarkan rasa hormat kepadamu.
Ibu yang mengajarkan kasih sayang kepadamu.

Ketika kita beranjak dewasapun, belum bisa kita membahagiakan mereka.
Tak pernah berhenti menguras pikiran mereka, perasaan mereka, dompet mereka, dan emosi mereka.
Tapi kita berlagak seolah-olah mereka akan terus menuruti semua keinginan kita.
Kenapa?
Karna mereka akan selalu ada bagi kita, begitu pikiran kita.

Kadang kita berpikir,
ketika kita dewasa nanti, kita berjanji akan membahagiakan mereka.
Dengan apa?
Dengan uang.

Ketika sudah dewasa, kita sudah bekerja,
ingin sekali membahagiakan mereka dengan barang-barang yang bisa terbeli dengan uang.
Kita berpikir demikian, padahal tak semudah itu menjadi orang sukses.

Namun, apa yang kita lakukan.
Sebelum dewasa, ketika kita bertemu dengan orang lain yang kita cintai,
mulailah kita menyingkirkan mereka dari prioritas kita.

Bergantilah dengan dia, seorang lain yang kelak kau kira akan menjadi pendamping hidupmu.
Waktumu kau habiskan dengan dia.
Uangmu kau bagi dengan dia.
Cintamu kau habiskan padanya.
Segala usahamu kau berikan untuknya.

Lalu,
dimana bagian untuk orang tua mu?
Apakah dia sang calon pendamping lebih dari orang tua mu?
Apakah dia yang selalu berada di sampingmu seumur hidupmu?

Semua berbeda, semua sudah tak sama dengan kehadiran orang lain itu.

Dimana janji kita dan impian kita untuk membahagiakan mereka?

Menjadi orang tua,
memelihara bayi kecil dan merepotkan hingga menjadi dewasa.
Setelah dewasa, sang anak pergi kepada orang lain untuk melanjutkan hidupnya.
Lalu, mereka meninggalkan orang tua mereka untuk bersatu dengan pasangannya.
Begitukah?

Senin, 11 Juni 2012

Malaikat Tanpa Sayapku


Kata orang, suatu waktu kita dipertemukan oleh orang yang salah agar ketika kita bertemu dengan orang yang benar kita tidak melakukan kesalahan
Tapi bagaimana jika kita merasa benar dengan orang yang salah itu?

Suatu waktu aku bertemu dengan orang yang ‘salah’.
Tapi aku tak pernah menyadarinya.
Karena apa?
Karena aku tak tahu jika ia orang itu salah hingga aku benar-benar tak melihatnya.

Hal yang menyakitkan ketika aku tak mampu melihatnya lagi
Namun ia nampak seperti keajaiban kecil di tengah gersang

Dia yang mengajarkan aku untuk berani menggantungkan harapan
Dia yang mampu mengajarkan aku untuk membuat orang lain tertawa
Dia yang mampu melengkapiku
Dia yang terkadang membuat aku sadar dalam diamku

Aku dan dia, berbeda
Jauh berbeda
Kehidupan, sifat, pemikiran, bahkan perasaan

Tapi biarkan malaikat tanpa sayap itu terbang
Aku membiarkannya berlari menjauh dariku
Biarkan ia mencari sayapnya yang patah
Atau mungkin yang pernah aku patahkan

Aku membiarkan dia berlari
Mencari kepingan-kepingan bulunya yang tercecer
Melihatnya dari jarak yang jauh, di sini

Takutku menyentuhmu kembali
Karna aku tahu,
Aku begitu rapuh
Dan
Begitu juga kau nampaknya

Kamis, 08 Maret 2012

Masa Kecil di Tahun 90-an

Akhir-akhir ini sedang di banggakan masa kecil kami -anak yang lahir di jaman 90an- yang membandingkan diri dengan anak-anak yang lahirnya tahun 2000an.
Aku dan teman-teman mencoba flasback tentang kehidupan masa kecil kami yang jauh dengan pergaulan anak jaman sekarang.

Waktu aku TK n SD,
mainanku adalah lompat tali, jumprit singit, bekel, congklak/ dakon, sepedaan ma temen-temen di sore hari.
Main monopoli, ular tangga, atau kartu hologram n yg kalah di coret bedak.
Atau yang ortunya rada tajir mbeliin anaknya Game Boy atau nintendo ajah dah luar biasa.
Berbeda dengan anak SD zaman sekarang yang kebanyakan udah pegang HP, kalo jalan pulang sekolah ma nunduk mantengin HP. Nyampe rumah ngadep komputer langsung ngegame.
Parahnya kalo udah kena game online, pasti lupa waktu, kebanyakan main di warnet.
Belum lagi kalo ortunya tajir, mainannya pasti yang seharga 1 laptop, atau dibeliin i-pad atau galaxy tab.
Kasian banget, mereka ga ngrasain yang namanya lari, cepet-cepatan 'nekong', atau ngrasain menggenggam biji-biji dakon yang mau gag mau mang masih kudu mikir biar menang.

Soal tontonan,
dulu tontonanku waktu kecil ada film kartun Doraemon yang sampe sekarang masih ada, trus Sinchan, Sailor moon, Dragon Ball, Chibi Maruko Chan (hahhahaa, bukan Cherrybelle).
Paling nggag gag separah anak sekarang yang di sajiin tontonan SINETRON yang isinya penuh dengan caci maki dan mata yang melotot beserta mulu manyun di peran antagonisnya.
Trus parahnya, level tontonannya udah selevel Breaking Dawn yang telah diketahui bahwa itu penuh dengan adegan orang dewasa.
Kasian, tontonan mereka udah gag mendidik dan membuat mereka 'dewasa sebelum waktunya'. Mereka gag bisa merasakan yang namanya imajinasi melalui kartun-kartun lucu yang paling ngga ga mendidik mereka untuk berkata-kata kotor.

Soal makanan,
ntah apa yang dimakan anak SD jaman skarang.
Jajanan mereka mungkin sama kayak cilok, batagor, es lilin, dll.
Tapi kasian, mereka ga ngrasain yang namanya jajanan mie anak mas, permen jagoan neon, es wawan, krip-krip, n makanan lainnya yang udah musnah di jaman sekarang ini.
Tinggal wafer supermen yang masih ada di jaman sekarang. Itu pun rasanya udah ga seenak dulu.

Nah, ini dia yang paling parah.
Yaitu soal LAGU.
Dulu lagu ku waktu kecil yang paling aku suka adalah lagunya Tasya - Libur telah tiba...
Kalo gag lagu anak-anak lain yang mang banyak pada masa itu.
Kayak Agnes Monica - Tralala Trilili, Bondan - Si Lumba-lumba, Ciquita Meidy, Joshua, Trio Kwek-kwek, dkk....
Lagunya kayak kodok ngorek, balonku ada 5, pelangi-pelangi, lihat kebunku, bang bing bung, nyamuk-nyamuk nakalnya Eno Lerian, n semut-semut kecilnya Melisa...
Beda ma anak-anak sekarang yang GAG PUNYA lagu anak-anak. Mereka taunya lagu Cherrybelle "Tuhan tolong aku..... really-really love you bla bla bla" atau lagunya ST12, "Sudah ku bilang, hapus airmata, bla bla bla...."
Kasian banget yah mereka, taunya lagu cinta-cintaan yang mereka sendiri gag tauu artinya apaan.
Akibatnya, masih SD udah pacaran. Ujung-ujungnya bertambahlah populasi MANUSIA GALAU di muka bumi ini....

Bersyukurlah bagi yang lahir di masa tahuh 1990-an, karna ternyata kita generasi terakhir yang mungkin merasakan bahagianya masa kecil kita yang menurut porsi kita yang sebenarnya.
Anak zaman skarang pada gaya BB-an, bawa laptop kemana-mana, pake mobil bokap buat gaya, pake lipstik, n minum2 biar maco...
Kasian mereka, bener-bener kasian...

Jumat, 20 Januari 2012

Pergi , Satu Lagi….


Pergi , Satu Lagi….

Tersentak aku melihat deretan tulisan yang tak pernah ku duga sebelumnya
Setengah tak percaya, aku tak berani menatapnya lebih lama
Sontak sekujur tubuhku bergidik dan jantungku berdegup kencang
Aku tak tahu apa yang terjadi, yang aku tahu, aku sedang shock
            Aku melihatnya, tapi aku berusaha menguasai diriku
            Beberapa waktu kemudian aku mencoba mengalihkan pikiranku
            Menganggap hal itu bukan apa-apa, aku berharap aku baik-baik saja
            Detik selanjutnya, perasaanku kalut, pikiranku gelap
Mendung itu datang lagi rupanya
Aku pikir aku bisa mempertahankan sinarnya sedikit lebih lama
Walaupun aku tahu aku takkan tahan menahan sinarnya yang terlalu terik
Tapi aku benci ketika harus melihat mendung itu datang
            Sejenak aku terseret ke masa lalu
            Aku ingat, sinarnya datang sejak beberapa tahun yang lalu
            Selama itu aku tak pernah menghiraukannya
            Aku mengganggap bahwa dia akan terus berada di sana untuk menyinari aku
Aku tak pernah menyadari keberadaannya
Yang aku mau hanya sinarnya, ya SINARnya saja!
Aku tahu aku egois, tapi aku tak akan bertahan lama jika berada di dekatnya
Aku risih dengan teriknya yang kadang membuat ‘setengah rambutku berbau matahari’
            Kini, sinar itu tak ada lagi
            Hariku sedikit meredup, bukannya karena sinarnya berkurang
            Tapi tak ada sama sekali
            Sinarnya telah mati!
Aku pergi ke ujung jalan yang sepi
Merenungi kegelapanku yang berselimut kesedihan
Di sana aku mengulang kembali apa yang telah ia “ajarkan” padaku
Yang aku ingat semua sinar dan kebaikkannya padaku
            Hanya saja aku tak menyangka
            Beberapa waktu lalu ia ada dengan sinarnya
            Namun tanpa aku sadari setengah dari sinar itu telah lenyap
            Ia tak lagi ada di sana, sinar itu telah berpindah pada orang lain
Ketika aku menyadari keadaan itu
Aku merasa jadi bahan tertawaan
Aku merasa semua itu hanya komedi murahan
Dia hanya ingin menertawakan aku dan menari di atas ketidaktahuanku

“Salahku memang
Aku tak pernah menganggapmu ada dalam hari-hariku
Tapi memang aku yang tak mau membuatmu merasa ada dalam hidupku
Karena aku tak bisa menerima terikmu dan menyimpan semua hangatmu
Sekarang yang harus aku lakukan hanya satu
Bagaimanapun juga sejak awal aku tak pernah mau menganggapmu
Aku hanya ingin sinarmu, bukan dirimu
Dan sekarang aku akan melupakan semuanya
Memang baru dirimu yang begitu terik di mataku
Namun bukan dirimu yang terindah
Dirimu hanya sebatas kiasan
Bukan untuk di sanjung dan di kenang
            Namun semua cerita ini akan terukir
            Bukan sebagai suatu hal yang istimewa
            Hanya karna kamu pernah memberikan warna berbeda dalam hidupku
            Terima kasih untuk semuanya :) “