Banyak moment-moment penting di bulan ini, juga banyak pelajaran berharga...
Di awal bulan Mei , hidupku tergoncang dengan masalah yang tak mengenakkan.
Baru saja menghela nafas karena bisa menghadapi UNAS, masalah baru datang menghampiri keluarga.
Hanya aku yang tahu, maka aku memutar otak untuk menyelesaikannya.
Aku sungguh tak habis pikir pada "si pembuat onar".
Dia sungguh tak punya malu, dia termasuk temanku. Tapi kenapa begitu busuk?
Kemudian, beberapa hari setelah itu pengumuman UNAS-pun menanti.
16 Mei , 14.30 pengumuman UNAS dikirim ke rumah.
17 Mei , 20.15 pengumuman SNMPTN undangan.
Kalau boleh jujur, sebenarnya aku tidak puas akan semua pengumuman itu.
Rasa kecewa melanda, terlebih ketika Undangan SNMPTN melayang begitu saja.
31 Mei 2011
Ujian SNMPTN tulis harus aku jalani untuk meneruskan perjuanganku untuk masa depanku.Pagi hari aku berangkat di antar ayah menuju Universitas Brawijaya melalui jalan Soekarno-Hatta yang sangat padat dan panjang.
15 menit sebelum masuk ruang ujian, aku sampai.
Perutku begitu sakit, mungkin karena aku terlalu gugup.
Akupun masuk ke fakultas MIPA gedung Kimia, aku berdiri di depan ruangan dan melihat sekitar.
Belum boleh masuk oleh para pengawas, aku pun menemukan seorang cewek sebayaku yang peserta SNMPTN juga tentunya.
Aku mengulurkan tanganku untuk berkenalan.
Namanya Jeje , dia datang dari Banyuwangi sebulan yang lalu.
Dia begitu santai, berbeda denganku yang gugup sampai perutpun mulas.
Pukul 07.30 kami memasuki ruangan yang berkursi 60 orang itu.
Panitia berjalan mengecek identitas dan lain sebagainya sampai akhirnya LJK dan soal dibagikan.
TPA di jam pertama membuatku cukup pusing. Karena 75 soal harus selesai dalam waktu 1 jam.
Istirahat 45 menit, kemudian masuk ruangan kembalii untuk mengerjakan soal Kemampuan Dasar: Matematika, Bahasa Indonesian, dan Bahasa Inggris.
1 jam untuk 60 soal pun berlalu dan rasanya sangat menyesakkan dada.
1 Juni 2011
Aku datang 1 jam sebelum ujian di mulai.
Aku menunggu di depan gedung dengan Jeje yang terlihat sangat santai, bahkan aku tahu dia tak belajar semalam dan jarang masuk les.
Setelah masuk ruangan yang di jaga oleh 5 orang orang pengawas ssetiap hari nya itu, aku selalu berdoa.
Mohon supaya Tuhan mau bermurah hati dan mengasihi aku yang benar-benar gugup dan hampir pesimis menghadapi ujian ini.
10 menit terakhir, aku melihat seorang cowok yang duduk di baris ke 3 dari depan itu menoleh pada seseorang di seberangnya.
Jarinya terlihat bergerak-gerak memberikan kode nomor untuk meminta jawaban.
Aku melirik seorang Bapak pengawas yang berdiri di sebelahku persis dan menatap ke depan.
Aku berpikir, "Apa dia melihat yang barusan terjadi tadi?"
Tapi dia diam saja, tak bergeming. Entah apa ia tahu atau tidak.
Sekilas ceritaku di bulan Mei yang begitu penuh dengan perjuangan dan penantian.
Sebentar aku berjuang, sesaat kemudian tiba masa penantian.
30 Juni 2011 pengumuman SNMPTN akan berlangsung.
Aku hanya meminta pada Tuhan agar bolehlah aku menjadi anak yang berhasil dan meringankan beban orang tua.
Aku sudah berkerja semampuku, sekarang Tuhan yang bekerja...