Sepi ini semakin menyayat
Tiap kali aku bicara padaNya, Ia selalu menjawab “Tenang saja, percayalah padaKu”
Itu pada awalnya
Awalnya aku merasa tenang
Duduk manis, tersenyum manatap langit
Berpikir, “Sedang apa dia disana? Dimana dia?”
Kemudian, sepi itu datang kembali
Tembok penghiburan itu runtuh lagi dalam sekejap
Aku menunduk yang sedari awal memberanikan diri menatap langit biru
Kini tiba-tiba sang mendung datang menyelimutinya
Aku tertunduk, lesu
Putus asa, bimbang
Aku berkata lagi padaNya, “Aku lelah, aku….. terserah apa saja yang Kau katakan”
Kemudian aku pergi dari tempat duduk itu
Aku berpikir, aku dapat mempertahankan tembok penghiburan dengan menatap sosok di sana
Sosok yang terlihat begitu sempurna
Namun, aku hanya dapat melihatnya
Ya! Hanya MELIHATNYA, tidak lebih
Aku kembali ke dalam taman imajinasiku
Mencoba membangun kepercayaanku padaNya
Menaruh harapan dan menyerahkan pena kepadaNya, itu tidak mudah
Sungguh, aku sudah mencobanya!
Mungkin,
Saat ini aku masih jenuh
Aku memilih berdiri, berlari ke sana ke mari
Kadang aku tersandung, bahkan jatuh
Namun aku tak dapat melakukan apapun
Aku hanya menoleh ke sana ke mari
Berdiri tegak setengah murung menatap tanah
Melihat bunga dan kumbang bermesraan di depan mataku
Semua ini belum berakhir,
Aku masih ingin meletakkan kepercayaanku kepadaMu
Sungguh, aku ingin
Hanya saja, aku mohon: Jangan Terlalu Lama
Aku takut aku tak bisa bertahan
Aku takut aku benar-benar ditelan rasa putus asa
Aku takut aku tersungkur kecewa
Aku takut pada akhirnya aku tak mendapat apa-apa
Sungguh Tuhan,
jangan terlalu lama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar